Dari Balik Patung Ikonik: Dua Pahlawan Lingkungan Tasikmalaya

Erlita Irmania
0
Dari Balik Patung Ikonik: Dua Pahlawan Lingkungan Tasikmalaya

Alun-Alun Kota Tasikmalaya: Tempat Legenda yang Menyimpan Sejarah

Alun-Alun Kota Tasikmalaya adalah tempat yang penuh dengan legenda dan kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang jarang diketahui oleh warga setempat. Meskipun lokasinya berada di Jalan Otto Iskandardinata, yang merupakan pusat Kota Tasikmalaya, banyak orang tidak menyadari betapa pentingnya tempat ini dalam sejarah daerah.

Alun-alun ini dikelilingi oleh beberapa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) dan para pedagang yang menjajakan berbagai makanan di sepanjang jalan yang mengelilinginya. Suasana alun-alun sangat nyaman untuk nongkrong, berolahraga, atau berswafoto. Pengunjung juga bisa menikmati berbagai makanan yang tersedia di sekitar alun-alun tersebut.

Patung Ikonik: Mak Eroh dan Abdul Rodjak

Salah satu hal yang sering terlupakan oleh warga adalah keberadaan Tugu Mak Eroh dan Abdul Rodjak, yang menjadi ciri khas dari Alun-Alun Kota Tasikmalaya. Kedua tokoh ini menjadi daya tarik bagi pengunjung, namun keberadaannya masih jarang diketahui, terutama oleh generasi muda saat ini.

Pemerintah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya perlu bekerja sama untuk membuat buku kecil yang menceritakan siapa Mak Eroh dan Abdul Rodjak serta kontribusi mereka. Buku ini sebaiknya disimpan atau dibagikan kepada pengunjung alun-alun agar mereka dapat mengetahui sosok-sosok penting yang berdiri tegak di tengah taman tersebut.

Tugu ini memiliki dua sosok pahlawan yang berdiri kokoh memegang Bendera Kalpataru dengan tulisan “Sukapura Ngagaung” yang artinya “Sukapura Bergema”. Di bawah kedua tokoh pahlawan itu terdapat tembok besar yang dihiasi relief yang menggambarkan budaya dan kehidupan warga Tasikmalaya.

Perjuangan Mak Eroh

Mak Eroh adalah salah satu tokoh perempuan asal Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong. Ia dikenal sebagai perempuan perkasa yang berhasil membuat saluran irigasi di lereng Gunung Galunggung untuk mengalirkan air ke lahan pesawahan.

Kondisi warga Tasikmalaya pada masa itu sangat sulit karena sumber air telah tertutup material letusan Gunung Galunggung. Saluran air yang dibuatnya berada di tepi jurang Gunung Galunggung, di tengah rerimbunan pohon dan dinding perbukitan yang curam. Dengan peralatan seadanya seperti belincong, linggis, dan cangkul, Mak Eroh menggali saluran air sepanjang 5 kilometer yang berbelok-belok mengikuti kontur perbukitan.

Meski banyak warga yang tidak percaya akan kemampuannya, kegigihan dan tekad Mak Eroh tidak pernah surut. Keberhasilannya dalam membangun saluran air itu membuatnya dijuluki Perempuan Tangan Besi. Ia mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto pada tahun 1988 dan juga menerima penghargaan dari PBB atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup.

Mak Eroh meninggal pada usia 60 tahun pada tahun 2004.

Kisah Abdul Rodjak

Selain Mak Eroh, ada juga kisah unik tentang Abdul Rodjak, seorang warga Kampung Pasangrahan, Kelurahan Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya. Ia memiliki jasa serupa dengan Mak Eroh, yaitu membuat terowongan di sebuah bukit untuk mengalirkan air ke sawah warga.

Abdul Rodjak memulai proyek ini pada tahun 1960 dengan menggunakan peralatan seadanya seperti balincong dan cangkul. Ia membuat saluran irigasi sepanjang 3 km dengan terowongan sepanjang 200 meter. Pembangunan ini dilakukan dengan memahat tebing hingga air mengalir ke Sungai Ciharuman dan lahan pesawahan miliknya.

Meski mendapat cemoohan dan cibiran dari warga setempat, Abdul Rodjak tetap berjuang hingga akhirnya berhasil menyelesaikan proyeknya. Pada tahun 1987, Presiden Soeharto memberikan penghargaan Kalpataru kepada Abdul Rodjak atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup.

Kesimpulan

Dibalik kedua patung di Alun-Alun Kota Tasikmalaya tersembunyi kisah-kisah luar biasa dari dua tokoh yang berjasa dalam melestarikan lingkungan hidup. Generasi muda yang sering bermain, nongkrong, atau joging di alun-alun tentu tidak mengetahui tentang siapa yang berada di balik patung-patung tersebut.

Patung yang dibuat dengan model kedua tokoh itu adalah upaya untuk mengenang jasa mereka dan menjadi cermin bagi generasi mendatang. Semoga generasi muda Tasikmalaya tidak melupakan sejarahnya sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default