Teater Kubur: Rintrik di Panggung TIM

Erlita Irmania
0

Rintrik: Sebuah Refleksi Kehidupan, Kematian, dan Ketuhanan di Panggung Teater

Sebuah adegan penutup yang menggugah datang dari pementasan Teater Kubur di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Jumat, 19 Desember 2025. Pertunjukan berdurasi satu setengah jam yang diberi judul "Rintrik" ini merupakan adaptasi dari sebuah cerita pendek tanpa judul karya Danarto, yang pertama kali terbit di Majalah Sastra Horison pada Februari 1968. Cerita yang aslinya diilustrasikan dengan gambar jantung tertusuk anak panah ini, kini dihidupkan kembali di atas panggung.

Pentas Teater Kubur berjudul "Rintrik". Dok. Teater Kubur

Rintrik: Tokoh Utama yang Mengawali dan Mengakhiri Kisah

Tokoh sentral dalam pementasan ini adalah Rintrik, diperankan dengan apik oleh Zazila. Pementasan dimulai dengan Rintrik yang berjalan "jauh" di latar panggung yang remang-remang, di atas sebuah gundukan, diiringi suara gaung yang halus. Perlahan, cahaya panggung mulai menerang, menyingkap sebuah kesibukan di panggung prosenium. Lima kelompok batang kayu tegak menjulang, tersebar asimetris, menciptakan lanskap yang unik, dengan sulur-sulur yang menggantung. Latar ini menggambarkan sebuah alam pedesaan, di mana percakapan tentang Rintrik, seorang perempuan tua yang menguburkan bayi-bayi yang dibuang, mulai terdengar. "Lubang demi lubang ia gali. Lubang demi lubang. Ya, lubang demi lubang. Sejak sebelum badai datang: sejak pagi-pagi benar ia sudah bekerja," demikian dialog yang menggambarkan dedikasi Rintrik.

Struktur Pertunjukan: Dua Babak yang Membawa Pesan Mendalam

Di bawah arahan sutradara Dindon Wahyudin, pementasan "Rintrik" terbagi menjadi dua babak yang terasa berbeda dalam penyajiannya.

Babak Pertama: Kedamaian yang Terusik dan Munculnya Sang Pelindung

Babak pertama menyajikan gambaran sebuah tempat yang masih alami dan damai. Namun, kedamaian ini terusik oleh fenomena pembuangan bayi-bayi. Masyarakat digambarkan tak berdaya, bahkan penjaga keamanan disogok agar membiarkan praktik keji tersebut. Di tengah keputusasaan inilah, sosok Rintrik muncul sebagai pengubur bayi-bayi yang tak berdosa.

Perubahan sikap masyarakat petani di daerah tersebut menjadi fokus utama di babak ini. Dari rasa penasaran dan ketakutan terhadap Rintrik, mereka perlahan beralih menjadi rasa hormat, bahkan mengangkat Rintrik sebagai pelindung dan sesepuh. Seorang perempuan tua, yang buta, rela menguburkan bayi-bayi yang dibuang. Hal ini memunculkan kekaguman dari masyarakat, seperti yang diungkapkan oleh salah seorang tokoh: "Tiap saat ada saja yang mengunjunginya. Ada yang ingin belajar ilmu yang tinggi-tinggi daripadanya. Ada yang ingin mendapat sorotan matanya yang buta itu, biar imannya kuat dan hidupnya sentosa. Ada yang hanya ingin melihat wajah perempuan yang luar biasa itu."

Babak Kedua: Konflik Moral, Kekuasaan, dan Pertanyaan Ketuhanan

Babak kedua menghadirkan sebuah adegan di mana sepasang kekasih tertangkap basah sedang bertengkar mengenai nasib bayi mereka. Sang perempuan ingin bayinya tetap hidup, sementara sang lelaki cenderung membuangnya. Keduanya mencari perlindungan Rintrik; sang perempuan meminta Rintrik untuk menyelamatkan bayinya, sementara pasangannya meminta Rintrik untuk menguburkan bayi tersebut. Terjadi perdebatan sengit, di mana Rintrik dengan tegas menyatakan, "Engkau tidak berhak atasnya."

Kehidupan Rintrik di babak ini ditentukan oleh kehadiran sosok pemburu yang merupakan penguasa daerah tersebut. Sang pemburu mengejar pasangan tersebut karena ia adalah ayah sekaligus kekasih dari perempuan yang meminta perlindungan Rintrik. Sang pemburu tidak hanya mengakhiri hidup kedua anaknya, tetapi juga merenggut nyawa Rintrik. Alasan sang pemburu, yang digambarkan sebagai makhluk yang merasa tidak terikat oleh aturan apa pun, terungkap saat Rintrik bertanya mengapa ia tidak mencegah pembuangan bayi-bayi. Jawabannya singkat dan brutal: "Itu sesukaku. Aku bisa berbuat apa saja di lembahku sendiri."

Teater Tubuh dan Kekuatan Dialog: Dua Pendekatan Seni yang Berbeda

Dua babak ini disajikan dengan gaya yang berbeda, mencerminkan kekhasan Teater Kubur. Babak pertama lebih menonjolkan "teater tubuh," di mana para pemeran menyampaikan pesan utamanya melalui gerakan tubuh dan penggunaan properti. Penonton disuguhkan visual pasangan suami istri yang berjalan dengan gestur harmonis, lalu gerakan keras yang menggambarkan keributan atau bencana, serta visual bayi-bayi yang beterbangan di sekitar Rintrik dan piano putihnya. Suasana mimpi dan sureal di babak pertama ini terasa kental.

Pementasan "Rintrik" menampilkan visual yang magis dan sureal.

Berbeda dengan babak pertama, babak kedua lebih mengandalkan dialog dan perdebatan. Fokusnya tidak hanya pada isu pembuangan bayi, tetapi juga merambah pada perenungan tentang hubungan "aku dan Tuhan," serta bagaimana perbuatan manusia digerakkan oleh Sang Mahapencipta. Rintrik dengan lantang menyemprot calon pembunuhnya dengan pertanyaan eksistensial, "Di seberang sana engkau bakar Jeanne d'Arc dan di padang yang lain engkau salibkan Al Hallaj. Di ujung sana engkau habisi Abraham Lincoln. Di ujung yang lain engkau seret-seret Mahatma Gandhi."

Adaptasi Cerdas dari Kata Menjadi Visual

Dindon Wahyudin menunjukkan kecerdasannya dalam mengadaptasi cerita pendek Danarto ke panggung. Ia berhasil mengubah narasi yang dibentuk oleh kata-kata menjadi sebuah pertunjukan visual yang memukau. Penggambaran suasana dari paragraf-paragraf cerpen, seperti deskripsi hujan badai yang "membasahi angin dan angin menerbangkan hujan bagai anak panah salju, dan hujan dan angin itu dibelah-belah petir, dan ekor-ekor petir jadi melempem oleh suasana dingin yang beku bagai krupuk dalam lemari es," disajikan Dindon melalui "teater tubuh" yang menantang. Beberapa paragraf narasi yang membentuk suasana magis dalam cerpen, diubah menjadi dialog "seseorang" oleh Dindon, memberikan dimensi baru pada cerita.

Tantangan Panggung dan Efek Emosional

Meskipun demikian, ada beberapa aspek yang terasa kurang tersampaikan secara emosional di panggung Graha Bhakti Budaya. Suasana mimpi, mistis, dan sureal yang dibangun melalui sosok perempuan bergaun hitam panjang yang berbicara tentang hidup dan Tuhan, piano putih, bayi-bayi yang melayang, dan alam pedesaan, terasa sedikit berjarak. Dialog-dialog perdebatan antara Rintrik, pasangan muda, dan sang pemburu, serta klimaks saat nasib Rintrik ditentukan, terasa tertelan oleh luasnya ruang panggung. Panggung prosenium yang luas (15x10x6 meter) mungkin menjadi salah satu faktor yang mengurangi intensitas emosional. Ada kemungkinan, pementasan di teater arena akan terasa lebih "menggigit" dan mampu menyentuh penonton secara lebih mendalam.

Secara keseluruhan, "Rintrik" adalah pementasan yang ambisius, menggugah pikiran, dan memprovokasi perenungan tentang berbagai lapisan kehidupan manusia, dari moralitas, kekuasaan, hingga pencarian makna spiritual.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default