Gelapnya Sejarah Stasiun Tanjung Priok, Cagar Budaya yang Pernah Jadi Tempat Prostitusi

Erlita Irmania
0

Sejarah Kelam Stasiun Tanjung Priok

Di balik megahnya bangunan Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara, tersimpan kisah kelam yang bagi sebagian orang sudah menjadi rahasia umum. Stasiun yang dibangun sejak 1914 dan ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1993 itu ternyata pernah menjadi lokasi prostitusi yang dikenal dengan nama Pela-pela.

Pada era 1990-an, berbagai aktivitas prostitusi dilakukan secara terang-terangan, mulai dari ujung peron masuk hingga ke area luar Stasiun Tanjung Priok. Setiap menjelang matahari terbenam, warga mulai menggelar lapak berupa meja dan bangku plastik di sepanjang rel kereta api Stasiun Tanjung Priok. Di atas meja-meja plastik tersebut, para pedagang menjajakan berbagai jenis minuman keras yang dijual secara terbuka.

Tak hanya lapak penjual minuman keras, warga juga menyediakan tempat-tempat untuk aktivitas prostitusi, salah satunya balai kayu yang dilengkapi kasur kapuk di pinggir rel kereta api. Antarbalai kayu tersebut pun tak ada pembatas atau penutup. Para pelaku prostitusi hanya mengandalkan kondisi rel yang gelap dan minim penerangan agar aktivitas mereka tidak terlihat oleh banyak orang.

Aktivitas Prostitusi yang Ramai

Mail, seorang penumpang sekaligus warga yang tinggal di sekitar stasiun, mengatakan bahwa aktivitas prostitusi di sepanjang rel kereta api Stasiun Tanjung Priok selalu ramai setiap malam, terutama ketika hari libur. Suara musik keras dari sound system juga selalu mengiringi aktivitas prostitusi di lokasi ini, membuat suasana semakin hiruk-pikuk hingga larut malam.

Para pelaku prostitusi akan membongkar lapaknya menjelang adzan Subuh karena aktivitas stasiun kembali ramai oleh penumpang pada pagi hari. Untuk mempercepat proses bongkar pasang lapak, warga membuat troli dari kayu yang bagian bawahnya dilengkapi roda agar dapat berjalan di atas rel kereta api. Troli tersebut digunakan untuk mengangkut sound system, tenda, karpet, serta bangku sehingga mereka tidak perlu mengangkut barang-barang itu secara manual.

Selain lapak bongkar pasang, terdapat pula beberapa warung remang-remang yang dibangun secara permanen di pinggir rel kereta api. Namun, masa kejayaan Pela-pela di Stasiun Tanjung Priok runtuh ketika Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sekitar Juni 2016, area prostitusi Pela-pela ditertibkan. Warung-warung remang-remang permanen pun dibongkar hingga tidak tersisa.

Tingkat Kriminalitas Tinggi

Selain dikenal sebagai lokasi prostitusi, kawasan Tanjung Priok pada era 1990-an juga identik dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Dulu, tahun 1990-an itu Tanjung Priok asli, dikenal premanismenya, pokoknya yang berbau kriminal ada semua di stasiun dan Terminal Tanjung Priok. Kawasan stasiun dan terminal Tanjung Priok dulu dipenuhi oleh banyak preman yang bisa dengan mudah melakukan pemerasan, kekerasan, dan pengancaman secara terang-terangan.

Menurut Mail, zaman dulu banyak orang langsung merasa takut hanya dengan mendengar nama Tanjung Priok karena wilayah tersebut dikenal menyeramkan. Ia juga menilai, wilayah sekitar terminal dan stasiun Tanjung Priok dulu terlihat sangat kumuh. Sampah, kotoran, serta bau pesing menghiasi kawasan tersebut setiap hari.

Tempat Judi

Bukan hanya dikenal sebagai tempat prostitusi, Pela-pela di Stasiun Tanjung Priok juga menjadi lokasi perjudian. Beragam jenis judi pernah berlangsung di lokasi ini. Judi koprok, judi bola setan, juga ada di situ, dulu tempat maksiat. Tjipto menilai, Stasiun Tanjung Priok menjadi pusat aktivitas maksiat karena minimnya pengawasan dan keamanan.

Pada masa itu, jumlah petugas keamanan stasiun sangat terbatas. Mereka hanya mampu melarang agar aktivitas prostitusi tidak dilakukan di dalam peron stasiun. Namun, petugas tidak berani membubarkan atau mengusir lapak-lapak di ujung peron karena kawasan Pela-pela dilindungi oleh banyak preman. Kondisi tersebut kini berubah. Sistem keamanan di sekitar Stasiun Tanjung Priok saat ini jauh lebih ketat, sehingga suasananya tidak lagi menyeramkan seperti dahulu.

Prostitusi Murah Meriah

Sejarawan Asep Kambali memandang bahwa tempat prostitusi yang disebut sebagai Pela-pela tidak hanya terdapat di Tanjung Priok, tetapi juga beberapa wilayah Jakarta lainnya. Pela-pela itu sebenarnya hal lumrah di Jakarta dan titiknya enggak hanya di Tanjung Priok. Dia di berbagai titik, di Jatinegara, di Kota juga ada di dekat jembatan Kota Intan.

Pela-pela merupakan lokasi prostitusi dengan tarif murah yang biasanya digelar di sepanjang rel kereta api yang sudah tidak aktif dilintasi. Asep mengaku pernah melihat langsung aktivitas prostitusi Pela-pela ketika mengeksplorasi lokasi-lokasi bersejarah pada malam hari. Minimnya pengawasan serta ketiadaan kamera pengawas (CCTV) membuat aktivitas prostitusi di Stasiun Tanjung Priok berlangsung lancar setiap malam, hingga semakin banyak orang menggantungkan hidupnya di sana.

Fasilitas Stasiun Lengkap

Runtuhnya Pela-pela membuat Stasiun Tanjung Priok terus bertransformasi menjadi lebih baik sampai saat ini. Kini, stasiun dengan luas bangunan 3.768 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 46.930 meter persegi itu menjadi andalan banyak pengguna jasa transportasi. Stasiun Tanjung Priok memiliki enam jalur kereta. Dua jalur, yakni peron 1 dan 2, digunakan untuk KRL Commuter Line dengan tujuan Jakarta Kota dan Kampung Bandan.

Jalur 3 dan 4 diperuntukkan bagi kereta barang dan langsir, sedangkan dua jalur lainnya merupakan jalur khusus menuju Pasoso atau Pelabuhan Tanjung Priok. Stasiun Tanjung Priok juga kini dilengkapi oleh berbagai fasilitas, mulai dari ruang tunggu yang nyaman, toilet, musala, area komersial atau tempat makan, loket dan mesin tiket elektronik (vending machine), serta ruang laktasi, area parkir untuk motor, mobil, dan sepeda, jalur difabel, lift, serta eskalator.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default