
Perpecahan Internal Menghambat Kesepakatan Dagang UE-Mercosur
Perjanjian dagang bebas antara Uni Eropa (UE) dan kelompok negara-negara Amerika Selatan, Mercosur, kembali menghadapi tantangan berat. Persoalan ini tidak hanya memengaruhi hubungan bilateral, tetapi juga menguji kemampuan UE dalam menjaga posisi sebagai kekuatan ekonomi global.
Penundaan Perjanjian yang Menyebabkan Kekacauan
Pada awalnya, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dijadwalkan menandatangani perjanjian perdagangan terbesar UE pada hari Sabtu, 21 Desember 2025. Namun, rencana tersebut harus ditunda karena ketidaksepahaman internal di kalangan negara anggota UE. Beberapa negara seperti Italia masih membutuhkan waktu untuk memperoleh dukungan dari pihak dalam negeri, terutama terkait dampak terhadap sektor pertanian mereka.
Perundingan antara UE dan Mercosur, yang melibatkan Argentina, Brasil, Uruguay, dan Paraguay, telah berlangsung selama 25 tahun. Proses ini sering kali menyebabkan frustrasi bagi negara-negara Amerika Selatan. Bahkan, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyatakan bahwa saat ini adalah momentum “sekarang atau tidak sama sekali”.
Dalam surat yang diterima oleh Lula, von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyampaikan penyesalan atas penundaan kesepakatan tersebut. Meski begitu, keduanya tetap menyatakan bahwa UE akan terus berupaya merampungkan perjanjian tersebut.
Tantangan Ekonomi dan Politik
Kegagalan dalam meratifikasi perjanjian Mercosur menjadi pukulan bagi UE, yang ingin menunjukkan kemampuannya sebagai pemain utama dalam perekonomian global. Pihak UE berharap kesepakatan ini dapat menjadi bukti bahwa blok tersebut mampu memperluas kemitraan di luar pengaruh China dan Amerika Serikat (AS), yang hubungan dengan Eropa semakin tegang.
Di tengah situasi ini, UE juga menghadapi tantangan dari konflik dagang dengan China. Beijing baru-baru ini mengumumkan rencana memperketat kontrol ekspor logam tanah jarang dan material kritis lainnya, yang menunjukkan kerentanan industri Eropa.
Sementara itu, UE juga menerima kesepakatan dagang dengan AS yang dinilai timpang. Kesepakatan ini mencakup tarif 15% untuk sebagian besar ekspor UE ke AS, sementara AS berkomitmen untuk menghapus seluruh bea masuk atas barang industri asal Negeri Paman Sam.
Potensi Pasar Baru dan Keuntungan Ekonomi
Perjanjian UE-Mercosur dipandang memiliki potensi besar untuk membantu Eropa keluar dari dinamika hubungan yang memburuk dengan AS dan China. Kesepakatan ini bisa menciptakan pasar terintegrasi dengan sekitar 780 juta konsumen, menghapus tarif secara bertahap atas sejumlah produk termasuk mobil, serta membuka akses lebih luas bagi Eropa ke sektor pertanian dan sumber daya alam Mercosur.
Selain itu, pakta ini akan memperluas jejaring ekonomi dan rantai pasok UE di luar AS dan China, sekaligus menunjukkan bahwa Eropa mampu menawarkan alternatif ekonomi yang kredibel bagi negara-negara lain.
Tergantung pada Italia
Nasib perjanjian ini kini sangat bergantung pada Italia. Perdana Menteri Giorgia Meloni menyatakan masih membutuhkan waktu untuk mengamankan dukungan domestik. Bagi sebagian pihak, Meloni dinilai sedang memaksimalkan posisinya sebagai penentu keputusan dengan menuntut konsesi lebih besar bagi sektor pertanian Italia.
Meski ada optimisme bahwa kesepakatan masih bisa dicapai pada Januari, banyak yang pesimistis. Jika tidak ada penandatanganan pada 20 Desember, maka perjanjian ini bisa mati, dan hal tersebut akan berdampak pada hubungan dagang UE di masa depan dengan negara-negara di seluruh dunia.
Alternatif dan Kebutuhan Keputusan
Jika kebuntuan terus berlanjut, kedua blok berpotensi mengalihkan perhatian ke kemitraan lain. Mercosur sedang mengupayakan kesepakatan dengan Uni Emirat Arab serta menjajaki kerja sama dengan Kanada, Inggris, dan Jepang.
Di sisi lain, UE juga berusaha merampungkan perjanjian dagang dengan India yang telah dinegosiasikan hampir dua dekade.
“Jika UE ingin tetap kredibel dalam kebijakan perdagangan global, keputusan harus diambil sekarang,” ujar Kanselir Jerman Friedrich Merz saat tiba di KTT Brussel.