Gejala Awal TBC yang Umum dan Sering Diabaikan
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang bisa menyerang berbagai organ dalam tubuh. Meskipun paling sering menyerang paru-paru, TBC juga bisa mengenai organ lain seperti kelenjar getah bening, otak, tulang, dan bahkan usus. Oleh karena itu, gejalanya sangat bervariasi tergantung pada organ yang terkena.
Salah satu gejala awal TBC yang sering diabaikan adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu tanpa sebab yang jelas. Dokter Spesialis Paru RSUP Surakarta, dr. Riana Sari, Sp.P, FISR, menjelaskan bahwa batuk ini tidak selalu disertai dengan darah atau sesak napas. Bisa saja hanya berupa batuk ringan, tetapi jika berlangsung lama, ini menjadi tanda peringatan penting.
Gejala Respiratorik
Gejala respiratorik merujuk pada gejala yang berkaitan dengan saluran pernapasan. Beberapa contohnya adalah:
- Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu tanpa alasan jelas.
- Sesak napas.
- Batuk darah.
- Nyeri dada.
Jika kelainan di paru-paru masih minimal, gejalanya mungkin hanya berupa batuk ringan. Namun, jika penyakit semakin parah, gejala bisa menjadi lebih nyata dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gejala Sistemik
Selain gejala respiratorik, TBC juga dapat menyebabkan gejala sistemik, yaitu gejala yang memengaruhi keseluruhan tubuh. Beberapa contoh gejala sistemik antara lain:
- Demam berulang.
- Kelelahan yang berkepanjangan.
- Keringat dingin tanpa alasan jelas.
- Penurunan nafsu makan.
- Penurunan berat badan secara signifikan.
Gejala-gejala ini sering kali dianggap biasa, terutama ketika terjadi secara kambuhan. Namun, jika terus-menerus muncul, ini bisa menjadi indikasi adanya penyakit TBC.
Gejala TBC di Luar Paru
Kasus TBC yang menyerang organ di luar paru juga cukup umum. Contohnya adalah TBC kelenjar, yang dapat menyebabkan benjolan pada kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau pangkal paha. Benjolan ini bisa terasa keras dan nyeri saat disentuh.
TBC juga bisa menyerang organ seperti otak, selaput otak, tulang, usus, dan organ genitalia. Setiap organ yang terkena akan menunjukkan gejala yang berbeda-beda, tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan penyakitnya.
Dampak Buruk Perokok Pasif pada Anak-Anak
Perokok pasif, terutama anak-anak, memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Asap rokok mengandung banyak racun dan karsinogen yang dapat merusak sistem pernapasan dan organ lainnya.
Beberapa dampak buruk perokok pasif pada anak-anak meliputi:
- Masalah pernapasan: Anak-anak yang terpapar asap rokok cenderung mengalami batuk, mengi, dan sesak napas. Mereka juga lebih rentan terkena asma, bronkitis, dan pneumonia.
- Peningkatan risiko kanker paru-paru: Paparan jangka panjang terhadap asap rokok meningkatkan risiko kanker paru-paru, meskipun mereka bukan perokok aktif.
- Penurunan fungsi paru-paru: Asap rokok dapat merusak sel-sel paru-paru, sehingga mengurangi kemampuan untuk bernapas secara efisien.
- Penyakit jantung: Bahan kimia dalam asap rokok dapat mempercepat perkembangan penyakit jantung, termasuk serangan jantung dan stroke.
- Dampak pada kesehatan mental: Anak-anak yang terpapar asap rokok mungkin mengalami peningkatan stres, kecemasan, dan depresi.
- Komplikasi kesehatan: Anak-anak yang terpapar asap rokok lebih rentan terhadap infeksi pernapasan, infeksi telinga, dan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).


