Kuliner Khas Kutai di Dapur Laiqa: Menikmati Jukut Hombong

Erlita Irmania
0

Pengalaman Makan di Dapur Laiqa Tenggarong

Setelah sebelumnya mencicipi makanan khas Kutai di Samarinda, suatu hari kakak ipar mengajak saya dan keluarga ke Tenggarong untuk mencoba hidangan khas daerah asalnya. Kami diajak ke sebuah rumah makan bernama Dapur Laiqa. Menurut informasi yang diberikan, di sana tersedia berbagai makanan khas Kutai, salah satunya adalah jukut baong hombong.

Nama tersebut terdengar familiar bagi saya. Dalam bahasa Sunda, "jukut" berarti rumput dan "baong" berarti nakal. Jadi, jukut baong bisa diartikan sebagai "rumput nakal". Namun, dalam bahasa Kutai, "jukut" berarti ikan, "baong" berarti baung, dan "hombong" berarti diasap. Jadi, jukut baong hombong artinya ikan baung yang diasap. Ini membuat kami semakin antusias untuk mencobanya.

Sebelum membahas tentang kuliner khas Kutai, saya ingin sedikit berbagi informasi tentang wilayah ini. Kutai adalah daerah bersejarah yang terletak di Kalimantan Timur. Daerah ini terkenal sebagai lokasi Kerajaan Hindu tertua di Nusantara. Rajanya yang paling terkenal adalah Mulawarman, yang namanya tercatat dalam prasasti Yupa, yaitu prasasti tertua di Indonesia.

Sekarang, nama Kutai merujuk pada beberapa wilayah administratif modern, seperti Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kabupaten Kutai Barat. Tenggarong, yang kami kunjungi, merupakan ibu kota dari Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kembali ke pengalaman kami di Dapur Laiqa. Rumah makan ini memiliki nuansa pedesaan dengan bangunan rumah panggung sederhana yang terletak di atas kolam dan dikelilingi oleh pepohonan hijau. Saat memasuki lantai kayu yang berwarna coklat kehitaman, saya langsung merasakan tekstur yang padat dan kokoh. Kami duduk lesehan saat makan siang.

Untuk menikmati hidangan di Dapur Laiqa, disarankan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu agar ikan asap yang diinginkan tersedia. Selain ikan baung, pengunjung juga bisa memesan ikan patin dan ikan jelawat. Semuanya adalah jenis ikan sungai yang diasapi menggunakan alat khusus, sehingga kesegarannya tetap terjaga.

Saya diperbolehkan melihat proses pengasapan ikan. Menurut pegawai di sana, ikan-ikan tersebut dibumbui garam terlebih dahulu sebelum diasapi. Ketika jukut hombong dihidangkan, saya melihat sajian yang menarik perhatian. Ikan baung memiliki kulit yang licin, sedangkan ikan jelawat memiliki tubuh yang bulat dan sisik besar. Hasil pengasapannya bagus, tidak terlalu kering dan matang sempurna.

Saya mencicipi jukut hombong. Dagingnya terasa smoky dengan rasa asin yang cukup. Ikan baung memiliki daging yang kenyal, sedangkan ikan jelawat bertekstur tebal dan padat. Tanpa bumbu rempah-rempah, rasanya mungkin monoton. Oleh karena itu, diperlukan cacapan sebagai pelengkap.

Cacapan adalah cocolan atau sambal yang sering disajikan bersama sajian khas Kutai. Kami memesan beberapa jenis cacapan, seperti cacapan empelan (mangga), cacapan kecombrang, cacapan belimbing (wuluh), dan cacapan perasan (irisan bawang merah dan cabe rawit yang diberi minyak). Semua cacapan terasa sangat pedas dan memiliki rasa unik.

Selain jukut hombong, kami juga memesan sayuran seperti labu santan dan tunu terong besantan. Keduanya adalah kuah bersantan yang mirip dengan sayur lodeh, tetapi lebih light. Labu santan terdiri dari labu kuning, kacang panjang, dan daun kacang panjang. Tunu terong besantan terdiri dari terong ungu bakar.

Menu lain yang unik adalah sanga cabek patin. Penyajiannya menggunakan cobek hotplate dengan isian leunca dan suwiran daging ikan patin yang ditumis dengan bumbu pedas. Rasanya sangat mantap.

Setelah makan utama, kami juga mencoba makanan penutup bernama lempeng pisang. Bentuknya pipih seperti roti canai dengan campuran tepung dan pisang. Rasanya gurih dan manis. Saya harus memesan tambahan karena rasanya sangat enak.

Hawa Tenggarong saat itu cukup panas, tetapi suasana di Dapur Laiqa terasa nyaman karena tempatnya berdinding terbuka dan dikelilingi oleh air kolam serta pepohonan hijau.

Selain makanan yang otentik, Dapur Laiqa juga menyediakan mushola sebagai fasilitas ibadah. Mushola ini unik karena terletak di atas kolam dan menggunakan kayu ulin sebagai bahan utamanya. Kayu ulin terkenal keras, kuat, dan awet. Warna kayu ulin pada bangunan mushola berwarna hitam alami.

Saya masuk ke dalam mushola untuk menunaikan shalat dan terkesan dengan interiornya. Sederhana tapi unik. Lantai dan dindingnya terbuat dari kayu ulin hitam yang dipernis. Saya berangan-angan bisa memiliki ruangan di rumah saya yang terbuat dari kayu ulin hitam.

Itulah pengalaman saya dan keluarga makan di Dapur Laiqa Tenggarong. Kesannya sangat baik. Makanannya lezat dan otentik, terutama jukut hombong-nya. Selain itu, tempatnya unik dan asri. Senang rasanya bisa mencicipi menu khas Kutai di tempat asalnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default