
Ada jenis makanan yang fungsinya sekadar mengisi perut. Ada pula yang memberi rasa senang sesaat. Namun ada makanan tertentu yang lebih dari itu, ia menyimpan ingatan, kebiasaan, bahkan nilai hidup. Bagi saya, mie ayam berada pada lapisan yang terakhir. Semangkuk mi dengan ayam dan kuah hangat ini bukan hanya soal makan, melainkan tentang rasa yang jujur dan pengalaman yang membumi.
Sering kali saya justru menemukan kenikmatan mie ayam di gerobak pinggir jalan, bukan di restoran dengan harga tinggi. Bukan karena menolak kemewahan, tetapi karena lidah tidak mudah tertipu. Interior bagus, piring cantik, dan nama besar tidak selalu sejalan dengan kelezatan. Pada akhirnya, rasa hanya mengenal dua ukuran, memuaskan atau tidak.
Mie ayam telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Hampir di setiap sudut kota, dari perkampungan, area sekolah, terminal, hingga kawasan perkantoran, pedagang mie ayam mudah ditemui. Makanan ini tidak memilih siapa yang menyantapnya. Buruh, mahasiswa, pegawai, hingga pejabat duduk sejajar di hadapan mangkuk yang sama. Dalam kesederhanaannya, mie ayam meruntuhkan jarak sosial.
Jejak mie ayam di Indonesia berakar pada sejarah panjang perantauan masyarakat Tionghoa ke Nusantara. Bersama perdagangan dan permukiman di wilayah pesisir, mereka membawa tradisi bakmi sebagai makanan harian. Dari sinilah cikal bakal mie ayam berkembang melalui proses pertemuan budaya yang tidak singkat.
Dalam versi awalnya, bakmi Tiongkok lazim menggunakan daging babi. Ketika beradaptasi di Indonesia, bahan tersebut diganti dengan daging ayam agar selaras dengan mayoritas masyarakat Muslim. Perubahan ini bukan sekadar soal bahan, melainkan bentuk kecerdasan budaya. Makanan menyesuaikan diri agar dapat diterima tanpa kehilangan identitas dasarnya.
Hasil adaptasi itu melahirkan mie ayam khas Indonesia dengan karakter rasa yang berbeda. Kecap manis memberi sentuhan gurih manis yang khas, diperkaya rempah lokal seperti bawang putih, jahe, dan daun bawang. Perpaduan sederhana ini menjadikan mie ayam akrab di lidah dan mudah disukai lintas generasi.
Popularitas mie ayam meningkat pesat ketika ia keluar dari dapur rumahan dan warung tetap, lalu hadir melalui gerobak dorong. Sejak dekade 1980-an, pedagang mie ayam keliling menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kota. Gerobak menjadikan mie ayam lebih dekat dengan masyarakat, mudah dijangkau, dan tidak berjarak.
Menariknya, gerobak mie ayam sering menyimpan penanda asal daerah. Warna gerobak menjadi semacam bahasa tak tertulis. Gerobak berwarna biru atau cokelat kerap diasosiasikan dengan Jawa Tengah, khususnya Wonogiri. Ciri rasanya bumbu lebih kental dan kuat, umumnya tanpa tauge, dengan kuah yang pekat dan gurih. Pemilihan warna biru dahulu bersifat praktis, karena catnya murah dan tidak mudah tampak kotor.
Di sisi lain, gerobak berwarna hijau sering dikaitkan dengan Jawa Barat, terutama wilayah Priangan. Mie ayam dari jalur ini dikenal berkuah bening, tekstur mie lebih lembek, serta bumbu ayam yang ringan. Varian yamin manis dan tambahan tauge cukup umum dijumpai. Warna hijau kerap dimaknai sebagai simbol kesegaran dan alam Pasundan.
Ada pula gerobak berwarna merah yang banyak ditemukan di Jakarta, warna yang dalam tradisi Tionghoa melambangkan keberuntungan dan kemakmuran. Namun semua penanda ini tidak bersifat mutlak. Rasa tetap ditentukan oleh resep, pengalaman, dan tangan sang penjual. Banyak pedagang mengembangkan ciri khas sendiri, bahkan sebagian paguyuban memiliki standar gerobak kayu dengan identitas tertentu. Warna bisa memberi petunjuk, tetapi tidak pernah menjadi jaminan.
Seiring waktu, mie ayam berkembang menjadi beragam versi daerah. Setiap wilayah menghadirkan karakter yang mencerminkan selera lokal. Di Jakarta, mie ayam dikenal dengan kuah kaldu ayam yang ringan namun gurih. Ayam dimasak dengan kecap manis seimbang dan biasanya disajikan bersama pangsit, bakso, serta sambal pedas.
Di Yogyakarta, rasa manis lebih menonjol. Ayam dimasak dengan kecap melimpah dan rempah ringan, menghasilkan cita rasa lembut yang selaras dengan karakter kuliner kota tersebut. Wonogiri menempati posisi penting karena menjadi daerah asal banyak penjual mie ayam yang merantau. Kuahnya kaya karena memanfaatkan kaldu tulang, sering dilengkapi bakso, tahu, dan kerupuk pangsit.
Sementara itu, mie ayam Medan menawarkan sensasi berbeda. Penggunaan kecap asin membuat rasa lebih dominan gurih, dengan topping ayam yang kerap dipadukan jamur atau daging cincang berbumbu kuat. Keragaman ini menunjukkan bahwa mie ayam adalah ruang ekspresi budaya yang terus hidup.
Bagi banyak orang, mie ayam juga menyimpan memori personal. Sepulang sekolah, jajan bersama teman, atau menunggu mangkuk panas datang di bangku panjang. Ia hadir dalam fase-fase sederhana kehidupan yang justru paling membekas.
Di tengah perubahan zaman, mie ayam tetap lentur mengikuti selera. Beragam inovasi muncul, dari tambahan bakso, jamur, pangsit, hingga keju. Ada versi pedas bertingkat, sentuhan bumbu luar negeri, bahkan pilihan tanpa bahan hewani. Meski demikian, versi paling sederhana tetap memiliki tempat tersendiri.
Menikmati mie ayam di gerobakan sering menghadirkan kepuasan yang berbeda. Tidak ada konsep berlebihan. Mi direbus dengan ukuran rasa yang sudah dihafal, ayam dimasak berdasarkan pengalaman, dan kuah dibiarkan berbicara apa adanya. Kesederhanaan inilah yang sering justru terasa paling jujur.
Gerobak mie ayam dapat disebut sebagai sekolah rasa yang sesungguhnya. Para pedagang mungkin tidak pernah belajar kuliner secara formal, tetapi memiliki kepekaan tinggi terhadap waktu, takaran, dan selera pelanggan. Pengetahuan itu lahir dari praktik harian, bukan dari buku.
Pengalaman saya semakin menegaskan hal tersebut ketika mengajak anak laki-laki saya usia 10 tahun mencicipi mie ayam di restoran dan di gerobakan. Tujuannya bukan membandingkan gengsi, melainkan melatih kepekaan rasa. Hasilnya jelas. Restoran menawarkan kenyamanan, tetapi gerobakan menghadirkan rasa yang lebih hidup. Dari situ muncul satu pelajaran sederhana, lidah menilai rasa, bukan tempat.
Di balik semangkuk mie ayam, terdapat denyut ekonomi rakyat. Banyak keluarga menggantungkan hidup dari usaha ini. Rantai ekonomi terbentuk dari produsen mi, peternak ayam, pedagang bumbu, hingga pembuat gerobak. Mie ayam bukan hanya kuliner, tetapi bagian dari sistem penghidupan.
Tak heran jika mie ayam mampu bertahan menghadapi gelombang tren makanan yang silih berganti. Ia tidak berisik dan tidak mengejar sorotan, tetapi selalu hadir ketika dibutuhkan. Konsistensinya menjadi kekuatan.
Pada akhirnya, mie ayam mengingatkan kita pada hal paling mendasar. Rasa tidak harus rumit, kenikmatan tidak harus mahal, dan kebahagiaan sering lahir dari hal sederhana. Dalam semangkuk mie ayam gerobakan, ada kejujuran yang sulit ditiru oleh kemasan mewah.
Selama masih ada orang yang menghargai rasa apa adanya, mie ayam akan terus menemukan tempatnya. Ia tumbuh bersama rakyat, berubah mengikuti zaman, namun tetap setia pada satu tujuan sederhana, membuat orang merasa cukup, hangat, dan pulang walau hanya melalui satu mangkuk (*ASP)